Sunday, December 27, 2009




9 petualang d kawah ratu

Monday, August 24, 2009

Jalan Jalan ke Kota Toea

Jakarta lengang. Hingga pukul 9 tidak ada tanda-tanda kemacetan di antara Slipi Jaya - Grogol - Kota. Bus Kopaja 86 terlihat kosong tanpa penumpang, sesekali bus-bus itu ngetem di Halte Slipi Jaya menunggu
penumpang yang tak kunjung ada. Daerah ini umumnya selalu padat, dengan arus kendaraan dari dan ke Tangerang, Banten, Jakarta Barat.

Ini hari kedua puasa yang dimulai hari sabtu lalu. Hari kedua tubuh belum sepenuhnya beradaptasi dengan pola makan yang baru. Meski menu sahur telah diperbanyak dan ditambah asupan segelas susu toh suasana
mengantuk dan lemas masih terasa. Apalagi matahari tanpa halangan awan terang benderang, menyengat dan terik. Hari minggu dan awal-awal puasa, memang lebih enak dihabiskan untuk beristirahat di rumah namun
kali ini ada agenda yang menarik. Jalan-jalan ke Kota Tua.

Kawasan Kota Tua Jakarta terletak persis di skitar Stasiun Kota atau sering dkenal Stasiun Beos. Kawasan ini beberapa tahun belakangan marak digadang-gadang sebagai potensi wisata yang dapat digenjot menaikkan pamor Jakarta. Rehab, pembebasan kawasan hingga promosi gencar dilakukan. Keberhasilan ini tak lepas dari beragam komunitas yang mensupport melalui promosi dan rangkaian tur memanfaatkan kawasan tersebut.

Kali ini saya bersama tiga rekan. Imam Maulana, Rizka Argadianti Rahmah, Stephani Puspitajati hendak melakukan survey kecil. Rencananya kami mencari spot-spot yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi buka bersama Pergerakan Muda/i Lintas Iman dan Kampus (PeMiLIK) Jakarta. Sesuai namanya PeMiLIK merupakan komunitas muda yang mewadahi kegiatan-kegiatan memupuk nilai-nilai nasionalisme, kesadaran sosial dan toleransi.

Jalan-jalan dimulai dengan Museum Bank Mandiri. Persis terletak di muka Stasiun Kota dan Halte Busway Kota, museum ini menjadi yang paling mudah untuk dikunjungi dan sering menjadi titik temu dan awal tur. Bergaya bangunan khas Eropa dengan tembok tebal dan pilar-pilar ala Yunani di muka. Di pintu masuk yang berupa tangga kita digiring untuk mengunjungi kantor penerima pengunjung. Disini kita disambut oleh para sukarelawan yang menjaga dengan ramah. Kehadiran para sukarelawan di front terdepan ini langsung memberikan kesan baik dan bersahabat. Saya bersama Imam yang telah hadir langsung mengobrol soal
Musuem ini dan kawasan kota tua.

Mereka dengan cekatan memberikan informasi mengenai objek dan event yang dapat kami ikuti di kota tua.
Di bawah tangga sebelumnya terpampang baner berdiri Tur Kota Tua yang dilaksanakan rata-rata satu bulan sekali.

Kami membuka-buka brosur yang tersedia. Dicetak oleh Sampoerna Foundation informasi yang ditampilkan memuat beberapa musume di Jakarta dan kota-kota lain. Tak banyak yang bisa dibaca dari lembaran sepertiga A4 untuk tiap museum. Setidaknya ada peta kawasan kota tua yang cukup membantu pengunjung baru seperti saya. Para sukarelawan tersebut dengan cekatan memberikan informasi tambahan yang tidak
tercetak dalam lembaran itu
.
Mulai menjelajah

Musuem Bank Mandiri mengutip tiket termahal Rp. 2000 rupiah untuk pengunjung umum. Harga rombongan bisa lebih murah dan pelajar serta mahasiswa bahkan tak perlu membayar apapun. Wah ini cukup mengagetkan mengingat hampir tak ada yang gratis di kota metropolitan. Begitu masuk melewati tangga kami dihadang patung-patung dengan senjata siap tempur. Nuansa Kemerdekaan disuguhkan memperingati Hari Kemerdekaan RI.

Ada banyak pernak-pernik berkaitan dengan dunia bank dapat dijumpai disini. Mulai dari mesin tik lama hingga penghitung uang koin. Salah satu benda yang paling menarik adalah Buku Besar yang dipajang. Buku
ini memiliki ukuran serupa A3 untuk tiap halaman tebal berkisar 10 cm. Digunakan sebagai buku pencatat transaksi keuangan dan invetori jaman dulu. Wowww saya jadi teringat pelajaran akutansi jaman SMU dimana kami para siswa harus menulis transaksi keuangan dengan tangan.


Ha..ha... salah satu pekerjaan yang membuat saya ilfil.

Memasuki ruangan lain ada banyak barang yang disajikan. Sayang penataannya tidak dilakukan dengan optimal. Barang-barang tersebut terkesan hanya di letakkan dan diamankan begitu saja. Informasi yang
ditampilkan pun hanya secaraik kertas dengan penjelasan tak lebih dari tiga baris. Jelas sungguh tak memadai sebagai wisata pengetahuan.

Di beberapa tempat pengaturan lebih baik terutama barang-barang yang memang diletakkan di asalnya. Ada beberapa mesin ketik dan alat kantor yang masih berada di atas meja-meja kayu. Persis seperti kondisi
sebenarnya sewaktu kantor ini masih digunakan. Kita akan banyak menjumpai foto-foto bertahun 1933. Nampaknya pengelola ingin memberikan imaji pada pengunjung seperti inilah suasana kantor bank pada jaman awal pemerintahan Kerajaan Belanda (diambil dari VOC yang bangkrut).

Ada ruangan-ruangan tertentu seperti ruangan rapat dan makan serta toilet yang tetap dijaga seusai aslinya. Sisi dinding kemudian dihiasi dengan foto-foto para Direktur Umum bank-bank yang kemudian merger
menjadi Bank Mandiri.